selamat datang

"THE SEASONS BLOG"

What time is it?

Mengenai Saya

Foto saya
mengenai gw, gw orangnya gak terlalu suka sama hal yang meribetkan,,,,dan sangat cuek sekali... di hidup saya yang saya paling utamakan yaitu allah swt, keluarga, musik, sekolah.. saya sangat mencintai dunia musik...sampai-sampai sangat ingin menjadi musisi yang di kenal oleh masyarakat.. saya memiliki 2 kaka, dan ke dua-duanya sudah kerja semua. dan di keluarga saya yang suka bermain musik hanya saya saja..jadi gak tau darah musik mengalir dari mana..hehe ok deh segitu aja tentang gw,,salam blogger

kumpulan foto jazz

Selasa, 06 April 2010

Negara dam berbangsa yang berbangsa

Negara dan berbangsa

Sejarah Indonesia klasik dan Indonesia pasca proklamasi merupakan gambaran sejarah “disintegrasi” yang

cukup jelas diketahui oleh sebagian besar anak bangsa. Zaman Indonesia klasik berisi sejarah pertumpahan darah

bersamaan dengan naik turunnya suatu dinasti/ kerajaan. Singasari, Majapahit, Mataram, Pajajaran, Banten, adalah

contoh-contoh perjalanan dinasti/ kerajaan yang berdiri dan runtuh akibat konflik internal yang melibatkan rakyat.

Sementara zaman pasca proklamasi, Indonesia pernah menjadi negara yang terpecah menjadi beberapa negara kecil

dengan berbagai manajemen dan konflik masing-masing. Elite-elite lokal terlalu ambisius ingin merdeka dari

Republik Indonesia yang belum lama diproklamasikan itu.

Sebenarnya, otonomi daerah merupakan sebuah kenyataan sejarah yang sejak dahulu telah ada pada bangsa

Indonesia. Semasa Kerajaan Mataram misalnya, dalam konsep kekuasaan Jawa (Moedjanto, 1987), pemerintahan

raja sebenarnya merupakan hubungan yang hirarkis antara satuan-satuan kekuasaan yang berdiri sendiri, sangat

otonom, dan dapat mencukupi kebutuhan sendiri, yang secara vertikal dihubungkan oleh ikatan-ikatan perorangan di

antara beberapa pemegang kekuasaan/ bupati. Proses integrasi dengan hegemoni Goa di

Sulawesi Selatan misalnya, juga tidak mengurangi otonomi kerajaan masing-masing, jangankan menghapus

eksistensinya. Ketika Jakarta berstatus sebagai vasal dari kerajaan Banten pada abad XVII, Jakarta pun tetap

mempunyai otonomi untuk dapat melakukan kontrak sendiri dengan Kompeni dan badan Perdagangan Asing lainnya.

Pada masa kolonial, pemikiran tentang otonomi pun dipandang penting untuk melangsungkan eksploitasi

kolonial. Politik Kolonial Belanda yang bertolak dari anggapan bahwa desa adalah tulang punggung ketentraman dan

ketertiban hendak mempertahankan otonomi desa dengan segala konsekuensinya. Pada prinsipnya, fungsi-fungsi yang bersifat nasional berada di tangan Pemerintah Pusat antara lain fungsi keamanan,

moneter, hubungan luar negeri. Fungsi-sungsi yang bersifat lokal diserahkan kepada daerah. Perkembangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar